Kuningan - SabaraNews - Masih tingginya Angka Putus Sekolah ( APS ) dan Angka Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kuningan , kembali mengemuka dan menjadi isyu dalam pembahasan
Rapat Koordinasi ( Rakor ) Bidang Pendidikan kabupaten Kuningan tahun 2026 di Audotorium SLB Taruna Mandiri , Sampora Kec Cilimus kamis (5/03) Sebagai peserta Rakor hadir para kepala desa dan camat se kab Kuningan.
Bupati Kuningan , Dian Rahmat Yanuar merasa prihatin , diperoleh data angka putus sekolah dan rata-rata lama sekolah penduduk Kuningan hanya pada capaian 7,9 tahun . " Itu setara dengan jenjang pendidikan smp kelas 8, dan itu dibawah standar angka propinsi dan nasional." jelas Dian.
Lanjutnya, " Kualitas sumber daya penduduk dengan capaian 7,9 ini , tentunya belum sesuai harapan. Kenapa hal ini bisa terjadi ? , Maka perlu melakukan validasi micro-data , dimana pendataan harus lebih terinci dan spesifik, Caranya dengan dor to dor , mendata usia anak usia 7 sampai 18 tahun yg tidak bersekolah. Sinkronkan, by name by address dengan Dapodik. " pinta Dian.
Lewat Program Gema Sadulur , dilaporkan penyebab APS dan ATS di Kuningan karena alasan ketiadaan biaya , jarak ke sekolah dan pernikahan dini , Untuk menekan APS dan ATS , Dian meminta para kepala desa dan camat ikut me-monitoring secara periodik dan melaksanakan rakor sektor bid pendidikan , Kalau bisa , mobilisasi gerakan kembali ke sekolah , begitu kata Dian.
Kepala Dinas Pendidikan Kab Kuningan Elon Carlan menegaskan apa yang disampaikan bupati , persoalan pendidikan , persoalan ATS dan APS sudah seharusnya menjadi tanggung-jawab bersama . Untuk itu , sebagai Kadisdik baru , dirinya akan melakukan pola baru dengan metode kolaboratif dan partisipatif.
Metode ini diharapkan nantinya akan mampu menjawab persoalan ATS dan APS. Polanya yaitu dengan membuka kelas jauh , membuka kejar paket yang berbasis desa dan kelurahan. Sasarannya semua warga yang tidak tamat sekolah SMP dan SMA dan tidak mengenal batas usia . " Mau 40 tahun , 50 tahun bisa ikut jadi warga belajar. Metode pembelajarannya pun sederhana yaitu pembelajaran berbasis aktivitas dan diselenggarakan di desa masing-masing tempat tinggal warga belajar ." jelas Elon.
Untuk penetrasi program barunya , Elon meminta bantuan dan ketegasan bupati agar mengintruksikan kepada para camat dan kepala desa agar pro aktif menyisir , mendata, mensosialisasikan program akselarsi peningkatan rata-rata sekolah penduduk Kuningan. " Kalau para kepala desa dan camat tidak membantu , saya minta mereka diumrohkan ke Israel , tetapi yang membantu program ini dikasih reward umroh ke tanah suci , " kelakar Elon.
Sebagai tutor dan guru pengajar warga belajar program akselarasi ini , Elon rencananya akan melibatkan para mahasiswa keguruan semester akhir sebagai duta pendidikan non formal yang ditempatkan di desa- desa, Ketika ditanya wartawan soal kualitas PKBM model baru ini , secara diplomatis Elon menjawab ," Untuk saat ini , di Kuningan , kalau soal warga belajar PKBM , jangan bicara kualitas dulu , tetapi ke kuantitas saja dulu , " pungkasnya.
( didi s )


