BANYUMAS – Slogan pembangunan yang merata nampaknya masih menjadi mimpi di siang bolong bagi warga di wilayah perbatasan Kabupaten Banyumas. Kehadiran bus Trans Banyumas yang digadang-gadang sebagai revolusi transportasi publik, justru kini menjadi simbol nyata ketidakadilan bagi masyarakat kecamatan pinggiran.
Di saat warga perkotaan menikmati kemewahan bus modern dengan fasilitas lengkap, warga di pelosok perbatasan hanya bisa menjadi penonton setia. Bagi mereka, Trans Banyumas hanyalah cerita dari mulut ke mulut atau gambar di media sosial yang tak kunjung melintasi aspal desa mereka.
Ketimpangan ini memicu kekecewaan mendalam. Masyarakat pinggiran merasa hanya dijadikan objek pemuas target pendapatan daerah melalui pajak, tanpa mendapatkan timbal balik fasilitas yang setara.
"KTP kami sama-sama berlogo Garuda, Presiden kami sama, pemimpin daerah kami pun sama. Tapi mengapa urusan fasilitas, kami seperti dianaktirikan? Kami bayar pajak yang sama, tapi kemewahan itu hanya milik mereka yang dekat dengan pusat kota," ujar salah satu warga di wilayah perbatasan.
Selama ini, wilayah pinggiran Banyumas memiliki peran vital sebagai penyumbang hasil bumi dan kontribusi pajak bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, kontribusi besar tersebut dinilai tidak berbanding lurus dengan perhatian pemerintah kabupaten.
Harapan masyarakat untuk memiliki akses transportasi yang layak, murah, dan aman kini kian pupus. Wilayah pinggiran seolah dibiarkan terisolasi secara perlahan dari derap pembangunan transportasi massal.
Beberapa poin utama yang menjadi keluhan warga antara lain:
• Sentralisasi Pembangunan: Fasilitas mewah dan modern hanya berputar di area dekat ibu kota kabupaten.
• Aksesibilitas: Warga perbatasan harus merogoh kocek lebih dalam untuk transportasi pribadi karena nihilnya angkutan umum yang layak.
• Rasa Keadilan: Ada perasaan diperlakukan tidak adil secara sosial dan ekonomi dibanding warga kota.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat di wilayah kecamatan pinggiran masih menaruh harap agar pemerintah daerah tidak hanya melihat peta dari pusat kota saja, melainkan menengok ke perbatasan—tempat di mana pajak dipungut namun fasilitas tak kunjung dijemput.
By Sigit purnomo


