Kolaborasi Mahasiswa KKN Universitas Siliwangi dan Petani Hadirkan Rumah Burung Hantu untuk Kendalikan Hama Tikus

 



TASIKMALAYA Sidakcriminalnews.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 45 Universitas Siliwangi memulai program pembangunan rumah burung hantu sebagai solusi pengendalian hama tikus di Desa Pagerageung, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (27/6/2026).

Program yang melibatkan kelompok tani dan dosen Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi tersebut bertujuan menekan populasi hama tikus melalui pendekatan ramah lingkungan dengan memanfaatkan predator alami, sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan diskusi antara mahasiswa KKN, kelompok tani, dan sejumlah dosen Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi mengenai strategi pengendalian hama tikus yang efektif. Dalam forum tersebut, para akademisi memaparkan berbagai metode pengendalian berbasis ekologi sebagai alternatif untuk mengurangi kerusakan tanaman padi akibat serangan tikus.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Abdul Hakim, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat varietas padi yang benar-benar tahan terhadap serangan hama tikus. Menurutnya, petani masih mengandalkan varietas padi yang telah dilepas Kementerian Pertanian, sedangkan di Kabupaten Tasikmalaya mayoritas menggunakan varietas padi sawah jenis IR.

"Beberapa varietas memiliki ketahanan terhadap penyakit tertentu, tetapi belum ada varietas yang secara khusus tahan terhadap serangan hama tikus," ujarnya.

Sementara itu, dosen Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Gilang Vaza Benatar, S.P., M.Sc., mengatakan bahwa pengendalian hama tikus perlu dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan musuh alami agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Menurutnya, pendekatan ekologis lebih efektif dibandingkan upaya pemusnahan karena mampu menekan populasi tikus secara berkelanjutan.

"Populasi tikus tidak dapat dimusnahkan sepenuhnya. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikan jumlahnya agar tidak menimbulkan kerugian bagi petani," katanya.

Sebagai implementasi hasil diskusi, mahasiswa KKN bersama masyarakat mulai membangun rumah burung hantu yang akan dijadikan habitat predator alami tikus. Program ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam pengendalian hama sekaligus mendukung sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Petani Desa Pagerageung, Jihad Abdul Wahid, mengatakan petani selama ini juga menerapkan pengeringan lahan sawah untuk mengurangi aktivitas tikus. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Dodo Hariyadi yang menjelaskan bahwa pengeringan sawah umumnya dilakukan setelah proses tanam atau tandur.

Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Noor Febriani, S.P., M.Agr., menilai pembangunan rumah burung hantu merupakan langkah strategis dalam pengendalian hama tikus. Menurutnya, idealnya setiap satu hektare lahan sawah memiliki satu rumah burung hantu agar populasi predator alami tetap terjaga dan mampu mengendalikan perkembangan tikus secara optimal.

Sementara itu, dosen Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Indra Permana, S.P., M.P., menambahkan bahwa pengelolaan air irigasi juga menjadi faktor penting dalam menekan perkembangan populasi tikus. Ia menegaskan bahwa sistem pengairan pascatanam harus diatur secara tepat agar tidak menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya hama.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Universitas Siliwangi berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, petani, dan pemerintah desa dapat menjadi model pengendalian hama tikus berbasis ekologi yang efektif. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, program rumah burung hantu diharapkan dapat diterapkan di berbagai daerah sebagai solusi pengendalian hama yang berkelanjutan.


(Ayep)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Definition List


 


 


 

Popular Items