Purwokerto Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, me-launching fasilitas Waste Station pada Kamis (5/11/2026).
Fasilitas ini mendorong masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari rumah, sekaligus mengubah sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi menjadi poin digital yang dapat dicairkan menjadi uang.
Program ini merupakan kerja sama Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan Bank Tabungan Negara (BTN) dan dikelola oleh Rekosistem.
Peluncuran Waste Station sebagai fasilitas pengumpulan sampah anorganik terpilah berbasis poin digital.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono
Direktur Commercial Banking BTN, Hermita
CEO & Co-founder Rekosistem, Ernest C. Layman
Masyarakat Kabupaten Banyumas sebagai pengguna layanan
Kamis, 5 November 2026
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Salah satu titik yang disebutkan adalah Alun-Alun Purwokerto. Titik lain direncanakan di titik kumpul, GOR, Menara Pandang, Alun-Alun Banyumas, dan sejumlah titik lainnya.
Volume sampah di Kabupaten Banyumas mencapai sekitar 738 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 77,76 persen atau 573,87 ton sudah terkelola, sementara sekitar 164 ton per hari belum terkelola dengan baik.
Bupati Sadewo menilai cara pandang terhadap sampah perlu diubah. Sampah tidak lagi hanya dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang.
"Sampah yang masih memiliki nilai manfaat harus bisa dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi," kata Sadewo.
Masyarakat menyetorkan sampah anorganik yang telah dipilah melalui aplikasi Rekosistem ke Waste Station. Sampah yang disetor dikonversi menjadi poin digital, kemudian poin tersebut dapat dicairkan dalam bentuk uang.
Jenis sampah yang dapat disetorkan antara lain botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, dan limbah elektronik.
Waste Station Alun-Alun Purwokerto memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar 4 ton sampah per bulan dan beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00-18.00 WIB.
Menurut Bupati Sadewo, kerja sama dengan BTN akan menghadirkan Waste Station di beberapa titik kumpul.
"Berkolaborasi dengan Bank Tabungan Negara (BTN), akan ada Waste Station di beberapa titik-titik kumpul, GOR, Menara Pandang, Alun-Alun Banyumas, dan beberapa titik-titik lainnya," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, menyebut program ini tidak hanya membantu penanganan persoalan lingkungan, tetapi juga diharapkan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
BTN menilai pengelolaan sampah berpotensi menjadi alternatif sumber pendapatan masyarakat, termasuk untuk membantu memenuhi kewajiban pembayaran cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
"Contohnya, bawalah sampahmu ke Waste Station ini menjadi rupiah. Rupiah yang dihasilkan bisa juga nanti untuk membayar kalau punya KPR, bayarlah cicilanmu dengan sampahmu," kata Hermita.
CEO & Co-founder Rekosistem, Ernest C. Layman, menyebut Banyumas sebagai salah satu daerah yang memiliki kesiapan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah. Hal itu mendorong Rekosistem secara mandiri membuka hub pengelolaan sampah di Banyumas.
"Kenapa kita buka di Banyumas? Karena kabupatennya itu sudah siap. Sudah rapi, yang bahkan membuat swasta seperti kami pun sanggup berdiri mandiri untuk mengumpulkan sampah-sampah daur ulang,
(Tim Redaksi)


